MEY SHYALLU

*Always keep your smile*

Minggu, 14 Agustus 2011

3 Hari Dalam Hidup Ini


Hari pertama : Hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…

Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…
Yang tersisa kini hanyalah hari ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga

Rabu, 03 Agustus 2011

Bersyukur atas segala sesuatu yang kita miliki adalah KUNCI KEHIDUPAN

Dibaca ya.. " Mensyukuri HIDUP "

MENSYUKURI HIDUP Seorang pria mendatangi Master, "Guru, saya bosan hidup. Rumah tangga berantakan. Usaha kacau. Saya ingin mati." Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit. Dan penyakitmu pasti bisa sembuh." "Tidak Guru, tidak. Saya tidak ingin hidup," tolak pria itu. "Baiklah. Ambil racun ini. Minum setengah botol malam ini, sisanya besok sore jam 6. Jam 8 malam kau akan mati dgn tenang." Pria itu bingung. Setiap Master yg ia datangi selalu memberikannya semangat hidup. Tapi yg ini malah menawarkan racun. Sampai rumah, ia minum setengah botol racun. Ia memutuskan makan malam dgn keluarga di restoran Jepang yg sudah lama tak pernah ia lakukan. Utk meninggalkan kenangan manis, ia pun bersenda gurau dgn riang. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar & melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda utk jalan pagi. Pulang ke rumah, istrinya masih tidur. Ia pun membuat 2 cangkir kopi. Satu utk dirinya, satu utk istrinya. Istrinya merasa aneh, "Sayang, apa yg terjadi? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku ya?" Di kantor, ia menyapa setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Ia menjadi lebih toleran, apresiatif thd pendapat berbeda. Ia mulai menikmatinya. Pulang jam 5 sore, ternyata istrinya menungguinya. Sang istri menciumnya, "Sayang, sekali lagi mohon maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu." Anak-anak pun berani bermanjaan kembali padanya. Tiba-tiba, ia merasa hidup begitu indah. Ia mengurungkan niatnya utk bunuh diri. Tetapi bagaimana dgn racun yg sudah ia minum? Bergegas ia mendatangi sang Master, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Bila kau hidup dgn kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu. Bersyukurlah!! Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan, jalan menuju ketenangan."

Rabu, 27 Juli 2011

Tuhan beri aku waktu 1 jam saja....

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota . Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.

Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.
Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini. Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.

Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika.

1 Jam Saja

Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya.

Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.

Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita.

Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka.

Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat.

Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita.

Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan.

Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya.

Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya.

Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota. Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota

Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.

Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu.

Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri.

Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.

Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang.

Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni.

Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi.

Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.

Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya:

kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Diruangan itu

mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu.

Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.

Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa laluSerrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri.

Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil.

Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah.

Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.

Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerahkumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik.

Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.

Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian.

Pagi, siang dan sore ia berdoa: Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya.

Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerimakabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke

tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka.

Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto.

Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.

Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu.

Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.

Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan.

Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang.

Ia mulai berdoa Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja.

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: Tuhan beri saya sebulan saja.

Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yangpenuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan .

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.

Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko,

tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulansberhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu.

Belum bergerak dari tadi. lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun.

Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.

Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu .

Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kaki nya dan ingat ketika ia belajar berjalan.

Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari……. Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia….Jadi mama tidak menyia-nyia kan saya.

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

Mama.. .., ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam – antara waras dan tidak – dan tiap hari – antara sadar dan tidak – kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann ya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu… Mama…

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan….. satu jam saja…. …satu jam saja…..

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Teman….mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan.

1 jam yang Tuhan minta

Sering saya dengar dalam khotbah ditanyakan: “Tuhan memberikan kita 24 jam sehari, 7 hari seminggu tapi berapa lama kita berikan untuk Tuhan?” Pertanyaan ini suka mengganggu diri saya. Terus terang saya tidak bisa berdoa lama. Berdoa 5 menit bagi saya terlalu lama dan melelahkan. Untungnya Tuhan yang kita imani memang sangat baik. Dia mengajari dan menuntun saya sampai bisa menikmati saat-saat doa.

Tuhan merubah saya dari buku psikologi rohani yang saya baca. Penulisnya mengatakan salah satu kemungkinan kita tidak bisa berdoa karena ada luka batin. Kalimat ini sangat menghentak saya. Bahkan seluruh isi buku merobek-robek pikiran. Betapa tidak, ciri-ciri manusia luka batin yang dijelaskan dalam buku itu persis seperti diri saya saat itu.

Dari situ Tuhan menuntun saya mengikuti retret penyembuhan luka batin. Tapi ada satu penghalang besar. Saya orang yang sangat tertutup pada masalah pribadi, apalagi pengalaman pahit masa lalu. Pengalaman masa lalu cenderung saya lupakan begitu saja. Waktu membaca buku itu pun saya bertanya dalam hati: luka batin apa yang saya punya? Saya tidak merasa dilukai dalam hidup ini. Saya baik-baik saja. Kemudian saya ketahui sifat seperti ini pun sebenarnya menunjukkan adanya luka batin itu sendiri.

Saya berangkat dengan rasa kuatir retret akan sia-sia karena saya tidak mampu mengenali luka batin itu. Juga rasa pesimis tidak mampu mengangkat luka itu mengingat sifat saya yang lebih suka menutup dari pada membicarakan. Bersyukur Tuhan mengutus seorang pendamping bijaksana dalam retret. Ia berhasil meyakinkan saya dengan satu analogi sederhana: "Umpamakan dirimu sebuah radio rusak yang dibawa ke tukang servis. Seperti pemilik radio memasrahkan radionya diservis ahlinya sampai jadi benar, demikian pun serahkan dirimu kepada ahlinya. Dia tidak akan salah servis karena tukangnya adalah Pencipta dirimu sendiri".

Sebuah analogi menarik. Di tengah keragu-raguan saya, Tuhan mau menservis diri saya. Saya berusaha berserah dan memohon Roh Kudus agar mampu melihat sisi gelap hidup saya. Selama retret saya merasa Tuhan begitu dekat. Saya jadi percaya sikap berserah diri pada Tuhan membuat Dia memiliki ruang gerak untuk bebas bekerja dalam diri saya.

Makin saya rasakan hadirat Tuhan, makin saya membuka hati. Hingga pada saat diagnosa …ketika dituntun merenungkan masa lalu…Tuhan dengan sangat jelas menunjukkan dalam batin saya suatu bayangan masa lalu ketika masih kecil kira-kira baru belajar jalan. Saya tidak tahu persis itu kejadian apa tetapi ada suatu getaran batin yang sangat kuat terhubung dengan fenomena itu sampai air mata keluar tanpa bisa dihentikan. Fenomena itu terus menerus muncul, begitu hidup dan nyata, saya melihat diri saya yang masih kecil sedang memandang ayah dan ibu dengan rasa empati yang sangat dalam.

Buru-buru habis renungan saya menelepon ibu. Saya minta ibu menceritakan pengalaman buruk keluarga ketika saya masih berusia 1-2 tahun. Ibu mengingat-ingat, menceritakan satu demi satu hingga sampai pada satu cerita yang sangat menyentuh hati. Ayah ibu saya pernah disidang oleh warga sekampung dalam suatu kerumunan masa karena suatu masalah bisnis. Menurut ibu, ketika itu saya berumur 1,5 tahun dan saya ada bersama mereka pada saat kejadian.

Waktu ibu cerita peristiwa itu, saya merasakan kembali suasana seperti yang muncul dalam renungan sebelumnya. Saya merasakan suatu ketegangan yang luar biasa dialami ayah dan ibu. Tanpa sadar “penyakit” tegang itu saya bawa terus hingga usia 33. Selama itu saya mengalami rasa tegang tanpa alasan kalau melihat kerumunan orang. Sangat tidak nyaman berada di tengah kerumunan orang. Saya mungkin satu-satunya mahasiswa yang tidak pernah ikut demo waktu awal jaman reformasi. Di kantor kalau ada rapat saya selalu pilih tempat paling belakang, itu pun masih duduk dalam keadaan tegang bahkan kadang badan gemetar tak beralasan. Setahun belakangan semakin parah, baru dengar akan ada rapat saja rasa tegang sudah datang.

Pengalaman traumatik (luka batin) seperti yang saya alami ternyata sangat menghambat relasi dengan Tuhan. Tapi Tuhan murah hati, Ia membebaskan saya dari belenggu yang menghambat saya merasakan kasihNya. Selama ini saya hanya bisa mendengar orang mengatakan kasih Tuhan begitu indah. Kini Dia mengijinkan saya mengalami sendiri kasihNya itu. Saya ingin ceritakan buah dari karya Tuhan pada diri saya:

Pertama, empat hari sepulang retret ada rapat di kantor. Dengan santai saya mengikuti rapat dan duduk di bagian depan, sesuatu yang langka terjadi. Sudah setengah perjalanan rapat baru saya sadar: koq saya duduk di depan? Tempat saya bukan di sini, biasanya saya duduk paling belakang. Saya lupa dengan ketegangan-ketegangan itu. Saya benar-benar sudah disembuhkan Tuhan.

Kedua, Tuhan dengan kasihNya yang tulus membolehkan saya merasakan hadiratNya yang begitu indah sehingga waktu berdoa 5 menit rasanya selalu kurang. Bahkan ada saat-saat dimana Dia rindu mencurahkan kasihNya, rindu mendengar pujian dan ungkapan syukur. Untuk itu Dia butuh waktu yang tentu saja tidak cukup hanya 5 menit.

Suatu pagi, anak saya (5thn) mengajak saya untuk bermain. Saya janji bermain tetapi saya minta waktu berdoa sebentar. Saya lihat saat itu pkl 6.35. Awalnya saya berdoa biasa, mengucap syukur, menyampaikan permohonan dsb. Tiba-tiba saya merasakan sukacita luar biasa. Dalam suasana itu mengalir dengan lancar kalimat-kalimat doa yang selama ini tidak pernah saya alami. Ada rasa mantap yang luar biasa dalam batin sehingga yang saya inginkan hanya mengucap syukur dan memuji-muji Tuhan tanpa putus. Saya sadar penuh anak saya 4 kali datang menepuk bahu saya, mengajak saya berhenti berdoa dan segera bermain dengannya tetapi dorongan untuk tetap memuji Tuhan lebih kuat dari ajakan anak itu. Saya sadar juga sudah duduk berdoa jauh lebih lama dari biasanya tetapi saya terus merasakan hadirat Tuhan. Begitu suasana itu hilang saya baru menutup doa dan kembali melihat jam, pkl 7.35. Tuhan mengundang saya mengalami kasihNya 1 jam tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

Pernah juga suatu malam saya terbangun pkl 3.00. Berhubung saya bangun harusnya jam 4.00 maka saya tidur lagi. Hari berikut saya pun terbangun pada jam yang sama dan kembali tertidur karena belum waktunya bangun. Anehnya, malam ketiga saya terbangun lagi tetapi 5 menit lebih cepat dari dua malam sebelumnya.

Saya tergelitik dengan peristiwa ini jadi saya merenung sebentar lalu memutuskan bangun berdoa. Sebelum tanda salib saya melihat jam 3.00. Saya berdoa rosario seperti kebiasaan tiap pagi. Pikir saya setelah rosario bisa tidur lagi, lumayan masih 40 menit. Yang terjadi, sebelum rosario selesai, dorongan untuk tetap berdoa datang lagi. Dan seperti kejadian-kejadian sebelumnya, kalimat doa, nyanyian syukur dan pujian mengalir dari suasana hati yang penuh sukacita. Saya sadar sudah berdoa lebih lama dari biasanya bahkan sempat mengatakan: “Tuhan kapan berhentinya…rasanya sudah lama saya berdoa” tetapi saya tidak menemukan alasan untuk berhenti begitu saja. Saya mengikuti suasana itu sambil menyampaikan ujud-ujud doa disertai puji-pujian dan ucapan syukur. Begitu dorongan itu mereda, saya menutup doa dan seketika itu juga weker berbunyi tepat jam 4.00. Tuhan meminta saya merasakan kasihNya 1 jam tepat, tidak lebih dan tidak kurang.

Dua kejadian ini hanya sebagian dari pengalaman menarik dimana Tuhan memberi kesempatan saya menikmati saat-saat doa yang dulu tidak pernah saya rasakan. Saya sangat bersyukur Tuhan membolehkan saya mengalami semua ini. Bagi saya, pengalaman ini meneguhkan saya bahwa Tuhan ingin mencurahkan kasihNya kepada manusia tetapi Dia butuh keterbukaan hati dan ketulusan memberi kesempatan padaNya. Tuhan tidak minta waktu di luar kesanggupan kita, Dia sangat toleran dan memahami kemampuan manusia sebab 1 jam adalah rata-rata waktu yang ideal bagi seseorang untuk berdiam diri.

Jakarta, 08/08/08
T. Lukman

Bersyukur pada apa saja

Anda wajib mensyukuri apa pun yang menimpa anda. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun anda untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa anda tidak realistis. Namun, sebenarnya sikap anda jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri anda dari kecemasan atas kesalahan.

Bersyukur mendorong anda untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup anda selain sikapbersyukur. Semakin banyak anda bersyukur semakin banyak anda menerima.Semakin banyak anda mengingkari, semakin berat beban yang anda jejalkan pada diri anda. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya. Karena, anda takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah.Anda berhasil karena berusaha. Sedangkan usaha anda lakukan karena anda melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah sisi positif itu tampak di pandangan anda.

Satu Langkah Ke Depan.

Tetaplah bergerak maju, sekalipun lambat. Karena dalam keadaan tetap bergerak, anda menciptakan kemajuan. Adalah jauh lebih baik bergerak maju, sekalipun pelan, daripada tidak bergerak sama sekali.

Dalam hidup kita sering merasa buntu hanya karena kita ingin mengambil satu langkah yang terlalu besar, langkah raksasa. Akibatnya, masalah kita jadi terlihat besar sekali, kompleks dan tak terselesaikan. Hasilnya, anda hanya termenung dan tidak bergerak.

Sabar dan coba mundur sebentar. Perhatikan tantangan anda.Tidakkah lebih memungkinkan bagi anda untuk mengambil langkah-langkah pendek terus menerus, ketimbang berusaha menelan semua masalah sekaligus. Satu langkah kecil demi satu langkah kecil, asalkan anda tidak berhenti, adalah cukup, karena anda masih memiliki hari esok dan masih ingin bergerak maju. Dan bukan berhenti.

Melawan diri sendiri

Melawan Diri Sendiri.

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan diri adalah pertandingan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menambat diri di tempat start.

Jerih payah untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna. Motivasi tak semestinya lahir dari rasa iri, dengki atau dendam. Keberhasilan sejati memberikan kebahagiaan yang sejati, yang tak mungkin diraih lewat niat yang ternoda.

Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal karena sibuk mengintip laju lawan-lawannya. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah pelari lain akan menyusulnya atau tidak. Tak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan seluruh perhatian demi perbaikan catatannya sendiri.

Ia bertanding dengan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain. Karenanya, ia tak perlu bermain curang. Keinginan untuk mengalahkan orang lain adalah awal dari kekalahan diri sendiri.

Selasa, 26 Juli 2011

BIARKAN AKU

Beritahu aku ketika aku membuat mu bangga
dan bantu aku merasa bangga dalam prestasiku

Biarkan aku mendapat kepercayaanmu
lalu percayailah aku...
aku...takkan mengecewakanmu...

Biarkan aku mencoba sayapku..
jika aku terjatuh, beritahu aku itu tidak apa-apa..
dan dorong aku untuk mencoba lagi..

Beritahu aku kamu menyanyangiku..
dengan pelukan atau pujian
atau jika diperlukan
dengan lembut tetapi tegas "tidAK'

Biarkan aku berubah
Biarkan aku bertumbuh...

akan Ku beritahu mu jika aku sedih dan marah
bahkan padaMU
dan beritahu aku bahkan dalam hari-hari yang terburukpun...
kau tetap menyukaiku...

Biarkan aku bermimpi..
ikutlah berbahagia ketika impianku terwujud,,,
ikutlah menangis ketika impianku hancur...

Biarkan aku merasa aman..
bantu aku menyadari cinta slalu ada..
bahwa aku dapat bersandar kepadamu..
apapun yang terjaadi...

Biarkan aku berlari..
Biarkan aku tertawa...
Biarkan aku berkreasi..
dan yang terpenting biarkan aku mencurahkan kasih sayang ku pada mu..



Loph yoU _mEy_
^_^
Daftar Blog ke Search Engine

Summary:mightz
Agar blog anda dapat dibaca diseluruh dunia, daftarkan blog anda ke tiga search engine

paling terkenal yaitu Google, Yahoo, dan MSN.



Ingin tahu caranya??


Daftar Blog di Google :



- silahkan kunjungi http://www.google.com/addurl/

- Isi kolom URL dengan alamat blog anda.

- isi Comments dengan keyword atau kata kunci yang

berhubungan dengan blog anda.

- isi kode verifikasi yang diberikan

- lalu klik tombol Add URL

- selesai





Daftar Blog di Yahoo




Untuk mendaftar ke yahoo silahkan anda kunjungi https://siteexplorer.search.yahoo.com/submit.

Akan tetapi untuk mendaftar ke yahoo, anda harus terlebih dahulu mempunyai account yahoo, karena di perlukan log in terlebih dahulu ke account yahoo. Bagi yang belum punya account yahoo (email di yahoo) silahkan bikin dulu, bagi yang sudah punya, anda tinggal login dengan username serta password anda. Apabila sudah login, nanti sudah tersedia kolom untuk di isi, silahkan isi kolom tersebut dengan URL anda, kemudian klik tombol Add URL, selesai.


Daftar Blog di MSN



Untuk daftar ke Msn, silahkan anda kunjungi http://search.msn.com/docs/submit.aspx?FORM=WSDD2 silahkan sobat isi huruf verifikasi dan URL sobat pada kotak yang tersedia, kemudian klik tombol Submit URL, selesai.


Daftar Blog ke Search Engine Originally published in Shvoong: http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/search-engine-and-seo/1895238-daftar-blog-ke-search-engine/